• Februari 2008
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  
  • Jumlah Pengunjung

    • 140,784 hits

penelitian sekolah

BAB IPENDDAHULUAN A.     Latar Belakang MasalahDunia pendidikan tidak akan pernah lepas dari suatu masalah. Baik itu menyangkut kebijakan, sarana-prasarana, pendidik, peserta didik, materi, evaluasi, metode ataupun yang lainnya. Semuanya dapat menjadi masalah apabila kita tidak mampu menjalankan sebagai mana mestinya. Tujuan awal Pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kenyataan di lapangan yang terjadi kadang pendidikan hanya menjadi suatu rutinitas yang tiada menghasilkan suatu yang dapat disebut sebagai proses pencerdasan.Demi mencapai tujuan tersebut, banyak tokoh dan ilmuwan pendidikan merumuskan teori yang telah diuji keefektifannya dan juga merupakan hasil dari penelitian di lapangan, sehingga dihasilkan suatu teori yang diharapkan dapat menjadi suatu solusi dari masalah yang ada. Dan dapat menjadi jalan bagi tercapainya tujuan pendidikan. Berbagai teori telah dituliskan dan berbagai panduan telah dibuat. Namun, kadang kenyataan di lapangan sang pendidik tidak mampu untuk menjalankan ataupun mengembangkan teori yang telah ada. Dari hasil observasi di MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga ditemukan bahwa; kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Akan tetapi metode yang digunakan untuk mencapai salah satu tujuan KBK tersebut, guru belum melaksanakannya secara penuh. Seperti yang terjadi pada guru yang mengajar mata pelajaran Fiqh di kelas X MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga. Beliau dalam menghadapi peserta didik yang kemampuannya beragam, dalam hal pengajaran menyamaratakan kemampuan siswa dari yang terendah atau kemampuan mayoritas yang dimiliki siswa. Sehingga siswa yang sudah mengerti harus merelakan waktunya demi menyamakan kemampuan dengan yang lainnya. Padahal, konsep pencapaian dalam KBK siswa yang sudah pandai tetap mampu menambah kepandaiannya walau ada perbedaan dalam hal kecerdasan dengan siswa yang lainnya di kelas. Kalau menilik persoalan  pencapaian tujuan pendidikan dengan kenyataan ini, rasanya wajar jika kurang berhasil. Sebab, guru tidak terlalu memahami akan persoalan untuk meningkatan kemampuan siswa yang beragam. B.     Rumusan Masalah1.       Bagaimana implementasi pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran Fiqh di kelas X MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah? C.     Metode Penelitian

1.      Wawancara atau interview.

2.      Observasi.3.      Pengumpulan data. D.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian               1.     Tujuan Penelitian

a.       Untuk mengetahui bagaimana pengimplementasian KBK di MAN Lab. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kaliaga, khususnya pada mata pelajaran Fiqh di kelas X.

b.       Untuk mengetahui seberapa jauh guru memahami akan kurikulum yang dipakai di tempat dia mengajar.                2.     Kegunaan Penelitian

a.       Agar lembaga penyelenggara pendidikan dapat lebih memperhatikan kemampuan guru, sebelum menerapkan suatu kurikulum.

b.       Untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh guru yang akan mengajar di suatu lembaga pendidikan. BAB IIGAMBARAN MAN LAB. FAK. TARBIYAH A.     Implementasi pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi pada mata pelajaran Fiqh di kelas X MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah

Fiqh merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat berguna sekali dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, fiqh menyentuh langsung dengan realitas keadaan sosio masyarakat yang ada.

Di MAN Lab. Fak. Tarbiyah, mata pelajaran fiqh diajarkan di semua tingkatan kelas (kelas IX, X, dan XI). Disini yang menjadi obyek penelitian saya  adalah kelas X.

Dari hasil wawancara dengan guru yang mengajar mata pelajaran fiqh di kelas X (ibu Nazula) di dapat keterangan bahwa kurikulum yang dipakai adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Jumlah siswa kelas X adalah sebanyak 16 siswa.

Dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, sebenarnya KBK dapat dengan efektif dijalankan. Sebab, dengan begitu semakin mudah dalam mengontrol kemajuan dan perkembangan siswa dalam hal kemampuan menguasai pelajaran yang diajarkan.

Meski dengan jumlah yang cukup kondusif untuk melakukan proses belajar mengajar. Namun, dari hasil wawancara pada tanggal 15 Februari 2007 didapat informasi bahwa: dalam hal mengajar siswa di kelas guru (Ibu Nazula) menyamakan dalam hal kemampuan antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan mengambil patokan pada mayoritas kemampuannya siswa. Dalam artian, pembelajaran dimulai dari yang mayoritas siswa tidak mengetahuinya. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mampu harus rela untuk menunggu teman yang lain agar kemampuannya sama. Padahal dalam metode  pengajaran yang dikembangkan KBK, berdasarkan psikologi behavioristik.[1] Yaitu metode yang sangat menekankan dan memperhatikan perbedaan serta karakteristik peserta didik.[2] Sehingga nantinya semua siswa dapat mencapai perubahan kemampuan ke arah yang lebih meningkat. Sebenarnya, ibu nazula pun mengetahui akan konsep metode mengajar yang digariskan KBK. Namun, menurut beliau sampai saat ini belum dapat menemukan cara agar kemampuan siswa semuanya dapat mencapai peningkatan, tanpa harus menunggu penyamaan kemampuan.

Mungkin dari satu sisi ibu nazula belum dapat menerapkan metode untuk meningkatkan kemampuan siswa secara bersamaan, tanpa harus menunggu. Namun, di sisi lain sebenarnya sudah cukup banyak menerapkan metode KBK untuk proses belajar-mengajar. Sebagai contoh dalam evaluasi, ibu nazula bukan hanya melihat kemampuan kognitif siswa. Akan tetapi beliau berusaha menilai kemampuan aspek afektif dan psikomotoriknya juga. Dengan cara melihat secara langsung bagaimana siswa mengimplementasikan di luar kelas. Beliau sering ikut makan bersama di kantin sekolah yang memang berada di dalam kompleks sekolah.Disamping itu, ibu nazula pun sudah memakai sistem diskusi dalam proses pembelajaran di kelas. Walau belum semaksimal di perguruan tinggi. Namun, itu suatu indikator yang baik. Bahwa interaksi belajar dua arah sudah berjalan.            BAB III TEORI METODE PEMBELAJARAN KBK A. Model Pembelajaran KBKSejak kemunculannya KBK bercita-citakan adanya peningkatan semua individu. Seperti yang ciri-ciri yang dikeluarkan oleh Balitbang bahwa KBK bercirikan: (1) lebih menitikberatkan pada pencapaian target kompetensi dari pada penguasaan materi, (2) lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia, (3) memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.[3]

Biasanya kemampuan individu antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam satu kelas berbeda-beda. Guru tentunya tahu persis kemampuan masing-masing siswanya. Ada siswa yang sangat pandai, ada siswa yang lamban, dan yang terbanyak siswa dengan kemampuan rata-rata. Kalau selama ini guru memperlakukan mereka dengan cara yang sama, tentunya kurang tepat. Hal itu tidak boleh lagi terjadi pada proses pembelajaran dengan metode KBK. Guru harus dapat melayani siswa-siswanya sesuai dengan tingkat kecepatan mereka masing-masing. Bagi siswa-siswa yang lamban, guru memberikan remediasi, dan bagi siswa-siswa yang sangat pandai guru memberikan materi pengayaan.[4]

Menurut pendapat john B. Caroll dan James H. Block, bahwa: untuk menguasai (masteri) suatu bahan/materi pelajaran diperlukan waktu yang berbeda-beda bagi setiap siswa. Dan apabila waktu yang disediakan cukup dan pelayanan terhadap mereka tepat yaitu meliputi pelayanan terhadap faktor ketabahan, kesempatan belajar, bakat, kualitas pengjaran dan kemampuan memahami pengajaran, maka setiap siswa akan mampu menguasai bahan/materi yang diberikan kepadanya.[5]

  BAB IV KESIMPULAN Dengan mengkomparasikan antara kondisi lapangan yang ada dengan teori yang dimbil dari berbagai sumber, disini kita bisa menawarkan suatu solusi atas apa yang terjadi. Diantaranya:    1.    adanya sosialisasi yang lebih merata kepada setiap guru akan bagaimana suatu kurikulum diterapkan,    2.    guru harus lebih memahami akan perbedaan siswa,    3.    dalam menghadapi perbedaan kemampuan murid, guru dapat melakukan beberapa langkah. Diantaranya; a.  melakukan remedial untuk siswa yang kurang dapat memahami akan pelajaran yang telah diajarkan, b. diberikan pengayaan bagi siswa yang pandai. c.  Bagi siswa yang kemampuannya di atas rata-rata dapat dilakukan akselerasi belajar.[6]Kalau menilik persoalan  pencapaian tujuan pendidikan dengan kenyataan ini, rasanya wajar. Sebab, guru tidak terlalu memahami akan persoalan pengimplementasian mata pelajaran tersebut ke suatu proses belajar-mengajar.     Daftar Pustaka  Mulyasa, E. 2003.Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Tim Penyusun. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, SMU. Jakarta: Pusat Kurikulum-Badan Penelitian dan Pengembangan, Depertemen Pendidikan Nasional.Sutrisno. 2005. Revolusi Pendidikan di Indonesia Membedah Metode dan Teknik Pendidikan Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Ar-Ruzz.S.W, Ischak dan Warji R.. 1987. Program Remedial dalam proses belajar-mengajar. Yogyakarta: Liberty. 



[1] Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003, Hal. 120

[2] Op Cit

[3]  Kurikulum Berbasis Kompetensi, Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, SMU, Jakarta: Pusat Kurikulum-Badan Penelitian dan Pengembangan, Depertemen Pendidikan Nasional, 2001, hal. 6.

[4]  Dr. Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia Membedah Metode dan Teknik Pendidikan Berbasis Kompetensi, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2005, hal. 24-25.

[5] Drs. Ischak S.w dan Drs. Warji R., Program Remedial dalam proses belajar-mengajar, Yogyakarta: Liberty, 1987, hal. 13

[6]  Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Hal. 161

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: