• Januari 2009
    S S R K J S M
    « Des   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Jumlah Pengunjung

    • 140,784 hits

Pembelajaran Fiqih (Tinjauan Psikologi Kognitif)

Belajar adalah usaha untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya adalah, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari. Definisi belajar bergantung pada teori belajar yang dianut oleh seseorang.[1] Untuk menentukan definisi tentang belajar dapat dilakukan pendekatan dari berbagai segi. Belajar itu sendiri sesungguhnya masalah yang dihadapi sepanjang sejarah umat manusia, dialami setiap orang. Hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap, terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar.

Proses belajar dapat terjadi dimana-mana; baik di sekolah, rumah atau keluarga, maupun dilingkungan tempat seseorang berada. Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang selalu berinteraksi didalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah metode pembelajaran.

Setiap guru yang akan mengajar, harus selalu membuat perencanaan, salah satu yang harus dilakukan adalah mampu membuat peserta didik senang dengan suasana belajar, melalui metode yang menarik.

Penggunaan metode belajar bertujuan membantu guru dalam menyampaikan materi agar mudah ditangkap oleh peserta didiknya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi motivasi yang kuat dalam proses belajar anak. [2] Dalam hal pemberian motivasi kepada peserta didik, tentunya guru harus selalu memperhatikan kondisi psikologi peserta didiknya.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, para guru sering lupa melihat aspek psikologi peserta didik, khususnya tahap perkembangan kognitif peserta didik. Proses pembelajaran kadang tidak disukai dan ditangkap oleh peserta didik karena tidak sesuai dengan suasana yang peserta didik inginkan di usianya. Dan metode yang dipilih tidak berdasarkan perkembangan kognitif peserta didik. Semestinya seorang pengajar perlu mengetahui tingkat-tingkat perkembangan peserta didik supaya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan bisa tercapai dengan baik.[3]

Pembelajaran yang tidak memperhatikan kondisi perkembangan kognitif peserta didik cenderung hanya sekedar melaksanakan rutinitas belaka, tanpa ada tinjauan lebih jauh tentang makna dan hakekat belajar itu sendiri yang merupakan proses pengembangan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Sehingga, dalam perkembangannya peserta didik kurang begitu optimal, karena guru tidak tahu akan tahapan yang ada dalam perkembangan anak. Kurang adanya pemahaman dari guru akan perkembangan kognitif peserta didik menyebabkan guru tidak tahu harus bagaimana mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didiknya menurut umur mereka. Sehingga wajar bila lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kurang dapat menghadapi akan tantangan yang ada. Karena proses pendidikan yang terjadi pada lembaga pendidikan hanya merupakan proses regulasi kelas belaka. Dalam artian naik kelas atau naik tingkat Madrasah bukan karena mereka telah menguasai apa yang seharusnya mereka kuasai di usianya, akan tetapi karena regulasinya/perputaran mereka mengharuskan untuk naik kelas atau naik tingkat. Hanya karena mereka dianggap sudah menguasai materi lewat jalur tes, yang kebanyakan dari mereka berhasil karena hafal dari materi yang diajarkan.

Mata pelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung kemampuan seseorang dalam hal hukum islam. Fiqih berfungsi sebagai landasan seorang muslim apabila akan melakukan praktek ibadah. Oleh karena itulah mata pelajaran Fiqih penting mendapat perhatian yang besar bagi seoarang anak di usia dini, agar kedepannya dia akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum islam yang ada.

Berangkat dari realitas dunia pendidikan seperti yang tersebut di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut akan dampak yang bisa timbul dari perhatian guru terhadap perkembangan kognitif peserta didik terhadap pembelajaran. Dalam penelitian pendahuluan, peneliti menemukan proses pembelajaran yang didalamnya kurang memperhatikan persoalan kevariatifan perkembangan kognitif peserta didiknya. Seperti yang terjadi proses pembelajaran di Madrasah Diniyah Al-Qur’an Depokan Kota Gede Yogyakarta. Seorang ustadz dalam mengajarkan berbagai materi agama kepada peserta didik menggunakan metode yang sama, dalam setiap materi dan usia. Padahal usia peserta didik dalam madrasah tersebut berbeda-beda, dari mulai usia 5-12 tahun dalam tiap rombongan belajar. Akan tetapi perbedaan umur tersebut tidak dijadikan pegangan dalam mengajar. Menurut Muh. Taufiq R. : “pembelajaran disini semuanya menggunakan metode pembelajaran klasikal, kebanyakan ceramah. Ustadz menulis di papan tulis lalu siswa disuruh menulisnya, selanjutnya guru menerangkan.”[4]

Menurut Jean Piaget tahap perkembangan kognitif anak berbeda dari anak sampai dewasa.[5] Perbedaan individual itu sangat luas atau banyak, akan tetapi beberapa perbedaan individu yang sangat penting diperhatikan dalam proses pengajaran adalah perbedaan kemampuan dasar atau bakat, minat, kecepatan dan cara belajar anak.[6] Oleh karena itulah sangat tidak tepat apabila kita menerapkan kesamaan dalam hal metode dan materi dalam setiap pembelajaran. Seharusnya pembelajaran harus disesuaikan dengan taraf perkembangan kognitif peserta didik.

Melihat fenomena tersebut, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut pembelajaran yang terjadi di Madrasah Diniyah Al-Qur’an Depokan Kota Gede Yogyakarta.


[1] S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 34.

[2] Roestiyah NK, Masalah-masalah Ilmu Keguruan (Jakarta: Bumi Aksara, 1989), hal. 57.

[3] Pawit M. Yusup, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hal. 45

[4] Wawancara dengan Bapak Muh. Taufiq R. (salah seorang pengajar) pada hari kamis, 10 April 2008

[5] Paul Suparno, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal. 15

[6] Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Madrasah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hal. 87

2 Tanggapan

  1. Kalau bisan saya mhon kepada Bapak untuk dapat mengirimkan perangkat pembelajaran yang lengkap

  2. makasih kang….artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: