• Desember 2009
    S S R K J S M
    « Okt   Mei »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Jumlah Pengunjung

    • 140,784 hits

Sirah Nabawiyah

BAB I

PENDAHULUAN

Kehidupan keluarga disadari atau tidak mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat secara umum. Hal ini dikarenakan peranan keluarga yang sangat penting  diantaranya; mencetak generasi-generasi suatu masyarakat. Keluarga dapat kita analogikan seperti “Pabrik”, apabila dalam suatu negara, “pabrik-pabrik” yang akan menghasilkan generasinya ternyata tidak dikelola dengan baik, hasilnya tentu akan tidak baik pula. Oleh karena itulah, pengelolaan keluarga harus dilakukan sebaik mengkin. Salah satu contoh pengelolaan rumah tangga yang sangat baik untuk diikuti adalah rumah tangga Rasulullah. Rumah tangga Rasulullah adalah sebuah rumah tangga yang berjalan sesuai prinsip pembinaan keluarga menurut Islam. Meskipun istri Rasulullah sangat banyak, beliau ternyata mampu untuk me-manage sedemikian rupa sehingga tujuan pembentukan rumah tangga sesuai ajaran Islam pun dapat dicapai olehnya.

Pola pembinaan keluarga Rasulullah sangat penting untuk dipelajari dan dicontoh oleh mereka yang akan, maupun yang sedang membina kehidupan berumah tangga. Dengan mencontoh pola pembinaan rumah tangga Rasulullah, masalah-masalah yang sedang marak terjadi dalam keluarga modern diharapkan dapat teratasi. Teratasinya permasalahan-permasalahan keluarga yang ada dalam masyarakat akan bernilai sangat penting bagi kehidupan sosial secara umum, karena yang demikian itu sedikit banyak pasti akan membantu menghilangkan krisis-krisis sosial yang ada saat ini. Lalu apa rahasia Rasulullah dalam mengelola rumah tangga ??

Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana sikap seorang Rasulullah dalam kapasitasnya sebagai seorang suami dan bagaimana rahasia beliau dalam mengelola rumah tangganya. Selain itu, tulisan ini akan menceritakan kehidupan kelurga rasulullah dan cara Rasulullah dalam mengatasi kemelut rumah tangga, disamping akan membahas hikmah apa yang dapat kita ambil dari kehidupan rumah tangga Rasulullah.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.     Perkawinan Nabi

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr RA, Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya): ”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah seorang wanita sholehah”. Dan hal ini benar-benar terwujud dalam kehidupan rumah tangga beliau SAW, karena Allah telah memilih untuk Rasulullah istri yang amat sholehah dan mulia, dialah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Perkawinan dengan Sayyidah Khadijah RA (556-620 M) menjadika Nabi Muhammad SAW sebagai kepala keluarga yang berdiri sendiri, tidak seperti sebelumnya, beliau harus mengikuti pengasuhnya: ibunya, kakeknya, dan terakhir pamannya. Saat itu beliau tinggal serumah dengan istrinya dan membentuk mahligai keluarga yang tenang dan terteram, penuh kasih sayang serta persatuan yang padu.

Meski umur mereka berbeda, seorang perjaka mengawini janda umur 40 tahun dengan beberapa anak, ini justru melahirkan perkawinan yang ideal. Nabi Muhammad mengawini Sayyidah Khadijah karena budi pekertinya yang luhur. Dan pilihan kepada Sayyidah Khadijah tentu tidak terlepas dari ketentuan dan pilihan Allah.

Dengan dua puluh ekor unta  muda  sebagai  mas  kawin  Muhammad melangsungkan  perkawinannya itu dengan Khadijah. Ia pindah ke rumah  Khadijah  dalam  memulai  hidup  barunya   itu,   hidup suami-isteri  dan  ibu-bapa,  saling  mencintai  cinta sebagai pemuda berumur dua puluh lima tahun. Ia  tidak  mengenal  nafsu muda yang tak terkendalikan, juga ia tidak mengenal cinta buta yang dimulai  seolah  nyala  api  yang  melonjak-lonjak  untuk kemudian  padam  kembali.  Dari  perkawinannya  itu ia beroleh beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan.  Kematian  kedua anaknya,  al-Qasim  dan  Abdullah  at-Tahir  at-Tayyib1  telah menimbulkan rasa duka yang dalam sekali. Anak-anak yang  masih hidup   semua   perempuan.   Bijaksana   sekali   ia  terhadap anak-anaknya dan sangat lemah-lembut. Merekapun  sangat  setia dan hormat kepadanya. Paras  mukanya  manis  dan  indah,  Perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang besar,  berambut  hitam  sekali  antara  keriting  dan  lurus. Dahinya lebar dan rata di atas  sepasang  alis  yang  lengkung lebat  dan  bertaut,  sepasang  matanya  lebar  dan  hitam, di tepi-tepi putih matanya agak ke  merah-merahan,  tampak  lebih menarik  dan  kuat:  pandangan matanya tajam, dengan bulu-mata yang hitam-pekat. Hidungnya halus dan  merata  dengan  barisan gigi  yang  bercelah-celah.  Cambangnya lebar sekali, berleher panjang dan  indah.  Dadanya  lebar  dengan  kedua  bahu  yang bidang.  Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila  berjalan  badannya  agak  condong   kedepan,   melangkah cepat-cepat  dan  pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh  pikiran,  pandangan  matanya  menunjukkan   kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya.

Dengan  sifatnya  yang  demikian itu tidak heran bila Khadijah cinta dan patuh kepadanya, dan tidak  pula  mengherankan  bila Muhammad  dibebaskan  mengurus  hartanya  dan dia sendiri yang memegangnya  seperti  keadaannya  semula   dan   membiarkannya menggunakan waktu untuk berpikir dan berenung. Muhammad  yang telah mendapat kurnia Tuhan dalam perkawinannya dengan Khadijah itu berada dalam  kedudukan  yang  tinggi  dan harta  yang  cukup. Seluruh penduduk Mekah memandangnya dengan rasa gembira dan hormat. Mereka  melihat  karunia  Tuhan  yang diberikan  kepadanya  serta  harapan akan membawa turunan yang baik  dengan  Khadijah.  Tetapi  semua  itu  tidak  mengurangi pergaulannya  dengan  mereka.  Dalam  hidup  hari-hari  dengan mereka partisipasinya tetap seperti sediakala. Bahkan ia lebih dihormati  lagi  di  tengah-tengah  mereka  itu. Sifatnya yang sangat  rendah  hati  lebih  kentara  lagi.  Bila   ada   yang mengajaknya  bicara  ia  mendengarkan  hati-hati  sekali tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang mengajaknya  bicara,  bahkan  ia memutarkan seluruh badannya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia  mendengarkan.  Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguhpun begitu iapun tidak melupakan ikut membuat humor  dan  bersenda-gurau,  tapi yang  dikatakannya  itu  selalu  yang  sebenarnya.  Kadang  ia tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai  tampak  kemarahannya,  hanya  antara  kedua  keningnya tampak sedikit berkeringat. Ini  disebabkan  ia  menahan  rasa amarah  dan tidak mau menampakkannya keluar. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada,  berkemauan  baik  dan menghargai  orang  lain.  Bijaksana  ia,  murah hati dan mudah bergaul. Tapi  juga  ia  mempunyai  tujuan  pasti,  berkemauan keras,   tegas  dan  tak  pernah  ragu-ragu  dalam  tujuannya. Sifat-sifat   demikian   ini   berpadu   dalam   dirinya   dan meninggalkan  pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang bergaul dengan dia.  Bagi  orang  yang  melihatnya  tiba-tiba, sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang bergaul dengan dia akan timbul rasa cinta kepadanya. Alangkah  besarnya  pengaruh   yang   terjalin   dalam   hidup kasih-sayang  antara  dia  dengan Khadijah sebagai isteri yang sungguh setia itu.

  1. B.     Istri-Istri Nabi

Sebagaimana diketahui, nabi beristri tidak hanya satu orang saja. Setelah kematian istri pertamanya, Khadijah, nabi memperistri sejumlah wanita yang jumlahnya lebih dari empat orang. Diperbolehkannya nabi memperistri lebih dari empat orang ini merupakan salah satu kekhususan yang hanya berlaku baginya, dan tidak untuk umatnya. Nabi mempunyai ketentuan khusus karena beliau adalah seorang yang ma’shum dari berbuat aniaya (tidak adil) dan kejelekan; suatu hal yang karenanya, umatnya hanya diperbolehkan beristri maksimal empat.

Karena bagi nabi tidak berlaku ketentuan batasan istri empat, maka wajarlah kalau istri nabi pun banyak. Sayangnya, mengenai berapa jumlah pasti dari istri-istrinya, para ahli berbeda pendapat didalamnya.

Perbedaan pendapat diantara mereka menjadi semakin tajam ketika mereka merinci dan menentukan jumlah istri yang pernah dipergauli nabi dan jumlah istri yang belum pernah dipergauli. Banyaknya perbedaan pendapat diantara mereka dapat dipahami mengingat hukum perkawinan yang berlaku bagi nabi sangat bebeda dengan hukum yang berlaku bagi umatnya. Hukum perkawinan yang berlaku baginya jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan yang berlaku bagi umatnya. Sebagai contoh, untuk nabi tidak ada batasan jumlah istri, sehingga memungkinkan baginya untuk beristri sebanyak yang ia kehendaki. Selain itu, proses akad perkawinannya pun sangat sederhana. Bagi nabi, dihalalkan wanita yang dihibahkan padanya tanpa mahar. Pernikahan nabi tetap sah meskipun tidak ada saksi dan tanpa wali.

Dari proses pernikahan yang sangat sederhana dan dapat terjadi dengan begitu mudahnya itulah, wajar sekali kalau kemudian banyak ulama yang kurang tahu mengenai tiap detail perkawinannya dan pengetahuan mereka berbeda-beda didalamnya. Selain pendapatnya berbeda-beda, ketika menyebut jumlah istri nabi, para ulama juga seringkali tidak merinci apakah angka itu merupakan jumlah istri yang ditinggal wafat, istri yang pernah seranjang, ataukah jumlah keseluruhan wanita yang pernah diperistrinya. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa jumlah istri nabi adalah sebelas orang. Dr. Muhammad Nur al-Fadani, dalam tahqiq-nya terhadap kitab Nihayatus Suul fi Khasha’ishir Rasul mengatakan, dalam Isnadul ‘Uyun disebutkan bahwa jumlah istri yang pernah seranjang dengan nabi ada 12 orang. Sedangkan menurut Muhamad Sayyid Kailani, jumlah istrinya adalah 13 orang. Begitu juga pendapat Al-Mubarakfury, sebagaimana dikutip oleh Sa’id Hawwa. Al-Mubarakfury menyatakan bahwa istri nabi berjumlah 13 orang, dengan rincian: yang ditinggal wafat oleh nabi 9 orang, yang meninggal dunia 2 orang, dan yang belum pernah dipergauli oleh nabi 2 orang. Lain lagi pendapat Imam Majd al-Din, dia mengatakan bahwa jumlah keseluruhan istri nabi ada 22 orang. Meskipun jumlah yang dikatakan para ulama sangat beragam, ternyata ada juga jumlah yang mereka sepakati. Jumlah yang mereka sepakati, sebagaimana dikatakan dalam Al-Anwar Al-Saniyyah Syarh al-Durar al-Bahiyyah, adalah 11 orang. Artinya, untuk jumlah sebelas ini, tidak ada ulama yang menyangkal, meskipun banyak yang kemudian menambahinya. Nama kesebelas istri nabi tersebut adalah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti ‘Umar, Zainab binti Huzaimah, Ummu Salmah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abi Sufyan, Shafiyah binti Huyayy, dan Maimunah binti al-Harits. Diantara nama-nama tersebut, yang paling terkenal dan seringkali menjadi pembicaraan dalam buku-buku sirah nabi adalah Khadijah dan ‘Aisyah.

Khadijah adalah istri pertama dari nabi yang paling dicintai olehnya dan paling berkesan di kehidupan nabi. Ia adalah seorang janda yang kaya, kuat kepribadiannya, cerdas, paling mulia – baik nasab maupun kedudukannya, dan cantik. Ketika menikah dengannya, umur nabi sekitar 25 tahun dan umur Khadijah terpaut jauh diatasnya, 40 tahun. Sehingga jelaslah bahwa yang menjadi titik berat tujuan nabi menikah bukanlah persoalan seks. Selain merupakan orang yang pertama kali beriman dengan risalah nabi, dia adalah istri yang paling banyak membantu nabi dalam masa-masa sulit tugas kenabian dengan kebijakan serta kedewasaannya. Maka wajarlah bila kemudian, setelah meninggalnya Khadijah, meskipun nabi menikah dengan banyak wanita, nabi tidak pernah bisa melupakannya dan selalu terkenang akannya. Satu-satunya istri nabi yang perawan adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar. Dia dinikahi oleh nabi pada umur 7 tahun dan dipergaulinya pada umur 9 tahun. ‘Aisyah merupakan istri nabi yang paling pintar dan paling banyak meriwayatkan hadis. Dalam sejarah, ia dikenal berwatak keras dan sangat pencemburu, terutama terhadap kecintaan nabi terhadap Khadijah. ‘Aisyah ternyata juga merupakan orang yang paling sering bercanda dengan nabi, dan nabi pun selalu melayaninya. Hal ini mungkin karena dia adalah istri nabi yang paling muda, sehingga tidak sedewasa istri-istri nabi yang lainnya.

  1. C.     Putra-Putri Nabi

Putra-putri Nabi berjumlah 7 orang yakni tiga laki-laki dan empat perempuan. Nama ketujuh putra nabi tersebut, sesuai urutan kelahirannya adalah, Qasim, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, Umu Kultsum, Abdullah, dan Ibrahim. Semuanya dilahirkan oleh Khadijah, kecuali Ibrahim karena ia dilahirkan oleh Mariyah al-Qubthiyyah.

Dari Sayyidah Khadijah, Nabi dikarunia enam anak. Yakni, Qasim danAbdullah, kedua anak lelaki ini meninggal sewaktu masih kecil. Karena itulah, sebelum umat Islam dilarang memanggil nama asli Nabi, mereka memanggilnya “Aba Qasim” (bapaknya Qasim)­

Sebuah hadits shahih menyebutkan, Nabi bersabda, “Namailah diri kalian dengan namaku, tetapi jangan berkun-yah dengan kun-yahku. Hanya akulah Qasim (pembagi). Aku membagi di antara kalian.” (HR Muslim). Maksudnya, apabila ada seorang ayah yang memiliki anak tertua lelaki bernama Qasim, tidak boleh meminta dirinya dipanggil Aba Qasim, sebagaimana Rasulullah. Atau, lebih baik nama Qasim itu untuk anak nomor dua dan seterusnya.

Kemudian disusul keempat anak lainnya, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah Az­ Zahrah. Sayyidah Zainab lahir ketika usia Rasulullah genap tiga puluh tahun. Setelah dewasa, ia menikah dengan anak bibinya, Abu Al-‘Ash bin Al-Rabi’, sebelum masa kenabian Nabi Muhammad. Pasangan ini dikarunia dua putra, Ali dan Umamah. Umamah pada saatnya dinikahi Ali bin Abi Thalib RA. Zainab meninggal di Madinah pada tahun kedelapan Hijrah.

Sayyidah Ruqayyah lahir pada saat Rasulullah SAW berusia tiga puluh tiga tahun. Setelah dewasa, ini dinikahi’Utbah binAbu Lahab.

Ketika turun surah Al-Lahab, Abu Lahab, memerintahkan anaknya menceraikan istrinya. Kemudian Ruqayah dinikahi Ustman bin Affan RA di Makkah. Pasangan ini dikaruniai seorang anak bemama Abdullah, tetapi beberapa hari kemudian meninggal dunia karena sakit. Putri ketiga Nabi ini meninggal setahun sepuluh hari setelah peristiwa Hijrah.

Sayyidah Ummu Kultsum lahir beberapa tahun setelah Sayyidah Ruqayah. la dinikahi oleh Utaybah bin Abu Lahab, tapi mengalami nasib sama, diceraikan oleh anak Abu Lahab itu. Setelah Ruqayah meninggal, Sayyidah Ummu Kultsum dinikahkan dengan Ustman bin Affan RA atas perintah dan wahyu dari Allah. la tidak mempunyai anak, dan meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah.

Yang terakhir, Sayyidah Fathimah, lahir ketika Nabi berusia tiga puluh lima tahun. la menikah dengan Ali bin Abi Thalib RA pada tahun dua Hijriyah, pada waktu itu umurnya sembilan belas tahun. Pasangan ini dikaruniai lima putra. Yaitu, Hasan, Husin, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab. Muhsin meninggal dunia ketika masih kecil. Sayyidah Fathimah meninggal pada malam Selasa, 3 Ramadhan 11 H, pada usia dua puluh delapan tahun. Jenazahnya dikuburkan di Baqi’, dishalatkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Sayyidah Fathimah meninggal setelah enam bulan Rasulullah menghadap Yang Mahakuasa.

BAB II

PENUTUP

Sungguh luas ilmu yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang di gambarkan melalui kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW. Tidak semua yang dapat nabi lakukan mampu kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena maqam/grade kita dengan nabi sangat jauh berbeda. Ada hal-hal yang hanya dapat dilakukan oleh para nabi. Seperti; manunggu wahyu di gua Hiro (karena wahyu sudah tidak diturunkan lagi), mempersunting istri lebih dari empat (karena kadar keadilan kita jauh dari nabi, sehingga ditakutkan kita tidak adil).

Ada beberapa hikmah yang mampu kita ambil dari kisah Nabi yang telah dipaparkan di atas, diantaranya:

–         Antara suami dan istri harus salalu saling mempercayai, sehingga masing-masing mampu mengembangkan diri sesuai dengan kondisinya.

–         Antara Suami dan istri hendaklah menjadikan Cinta dan Kasih Sayang sebagai landasan dalam berumah tangga, sehingga tidak lagi melihat kesenjangan yang ada (baik perbedaan usia, ataupun strata sosial).

–         Kesuksesan dalam berkarir sangat ditentukan sekali oleh keharmonisan rumah tangga.

–         Diperbolehkannya nabi memperistri lebih dari empat orang merupakan salah satu kekhususan yang hanya berlaku baginya, dan tidak untuk umatnya. Nabi mempunyai ketentuan khusus karena beliau adalah seorang yang ma’shum dari berbuat aniaya (tidak adil) dan kejelekan; suatu hal yang karenanya, umatnya hanya diperbolehkan beristri maksimal empat.

Satu Tanggapan

  1. bacaan yg penuh makna…semoga bermanfaat untuk pengunjung (pembaca) yg berikut’nya..amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: