• Mei 2010
    S S R K J S M
    « Des   Agu »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Jumlah Pengunjung

    • 140,784 hits

ISLAM FUNGSIONAL

Penulis : Dr. Sangkot Sirait

Judul Buku : Dari Inklusif ke Islam Fungsional (Telaah atas Pemikiran al-Faruqi)

Penerbit : Data Media, Desember 2008

Halaman : 256 Halaman

Oleh : Abas, S.Pd.I

Buku yang ada di tangan pembaca sekarang ini berisikan penjelasan tentang konsep inklusivisme agama Isma’il Raji al-Faruqi yang menempatkan agama-agama lain (Abrahamic Religion) sejajar dengan Islam, baik dari segi status maupun posisi masing-masing. Adapun yang menjadi perhatian utama dalam buku ini adalah pandangan al-Faruqi, yang di lain pihak, justru mengklaim Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan dibanding agama-agama lain. Teori yang dipakai untuk menjelaskan pemikiran al-Faruqi tersebut adalah teori tahapan budaya C.A Van Peursen. Teori tahapan budaya (mitis, ontologis dan fungsional) yang disampaikan van Peursen relevan digunakan dalam tulisan ini dengan alasan bahwa struktur fundamental pemikiran al-Faruqi, khususnya di bidang inklusivisme agama, adalah terdiri dari wahyu, sejarah dan humanisme (etik). Pemikiran wahyu al¬-Faruqi dapat dipahami dengan jelas berdasarkan kerangka pikir mitis; sejarah al-Faruqi dijelaskan dengan kerangka ontologis, mengingat konsep sejarah yang dikembangkan al-Faruqi banyak benuansa konsep sejarah sakral. dan etika yang ditemukan dalam pemikiran al-Faruqi dilihat dari kerangka fungsional. Struktur fundamental pemikiran Faruqi yang terdiri dari wahyu. sejarah dan etik tersebut, tidak semata dilihat sebagai aspek yang dikotomis, akan tetapi dalam tulisan ini, dijelaskan sebagai suatu tahapan perkembangan pemikirannya sendiri. Inklusivisme agama al-Faruqi tersebut terinspirasi dari norma-norma wahyu (al-Qur’an) yang secara tegas menyatakan hubungan antara masing masing penganut agama, khususnya Yahudi, Nasrani dan Islam. Di samping pernyataan wahyu, inklusivisme itu pula dikuatkan oleh penelitian al-Faruqi sendiri terhadap fakta sejarah, baik itu penelitian yang dilakukan terhadap era sebelum Nabi Muhammad SAW (Mesopotamia dan kebudayaan orang-orang Mesir), era Nabi Muhammad SAW maupun sesudahnya. Adapun aspek ketiga yang menjadi sumber inspirasi pemikiran (inklusivisme agama) al-Faruqi. adalah humanisme. Artinya. dasar untuk menghormati orang lain adalah kemanusiaan, yakni bahwa keyakinan seseorang dilihat dari perspektif hak masing-masing dalam memaknai dan meng-ekspresikan agama fitrah (Religio Naturalis) itu. Sistem ini dipandang dan dijelaskan sebagai sebuah tahapan perkembangan pemikiran Faruqi, namun, dengan mengikuti van Peursen, tahapan yang lebih tinggi (humanisme) tidak berarti melepaskan tahapan paling awal (wahyu). Kendatipun agama yang fungsional merupakan aspek yang lebih tinggi, tidak berarti al-Faruqi lantas meninggalkan normativitas wahyu. Sejarah dalam pandangan al-Faruqi merupakan kreasi Tuhan sebagai realisasi pernyataan wahyu-Nya (korespondensi). Tetapi masalahnya, sejarah dalam kenyataan kadang¬kadang bertentangan dengan normativitas wahyu tersebut Gambaran hubungan ideal para penganut agama yang dilukiskan wahyu, sampai di era al-Faruqi tidak kunjung datang atau terulang lagi. Di sinilah terlihat tumpang tindih antara pemikiran mitis (wahyu), iman dengan kenyataan sejarah (ontologis), yang menurut Peursen, menjadikan pemikiran seseorang mengalami konflik. Tampaknya al-Faruqi tidak mau berlama-lama dalam suasana berpikir seperti yang demikian. Oleh karena itu, kemudian ia beralih kepada kemanusiaan (humanisme). Humanisme dalam pandangan al-Faruqi bukan humanisme menurut tradisi retorika Barat, melainkan cenderung kepada humanisme renaisans Islam yang banyak menghindari filsafat, tetapi intens dalam pembicaraan etika. Dengan mengikuti teori Peursen. maka sejarah dalam pandangan al-Faruqi, tidak lain kecuali sebagai era transisi dari pemikiran wahyu yang cenderung teologis-mitis ke humanistis-etis. Makna inklusif keberagamaan al-Faruqi, yakni keterbukaan melihat adanya kebenaran dalam agama lain, tetapi tetap memprioritaskan kebenaran agama sendiri. Artinya, klaim kebenaran dalam agama begitu penting dan harus dipertahankan namun serempak menempatkannya sebagai kebenaran fungsional. Jika tidak demikian, klaim kebenaran agama justru mempersempit ruang gerak agama itu sendiri. Demikian pula, kebenaran pemahaman agama lain bisa diterima selama pemahaman keagamaan itu menampakkan diri dalam dataran sosial dan menunjukkan fungsinya secara baik pula. Jika tidak demikian, seseorang hanya dianjurkan untuk menerima dan mengakui sesuatu yang tidak nyata di luar agamanya sendiri. Bagi al-Faruqi, prioritas itu adalah Islam. Menurutnya, Islam sebagai satu-satunya agama keselamatan, satu-satunya solusi problem kemanusiaan. Tetapi, seperti yang ditemukan dalam karya-karyanya, bahwa terma Islam yang disampaikan al-Faruqi telah mengalami pergeseran makna, yakni bukan Islam dalam pengertian agama formal, akan tetapi Islam yang lebih berorientasi kepada budaya dan kemanusiaan. Jadi, klaim kebenaran Islam dalam pandangan al-Faruqi adalah klaim kebenaran Islam yang sudah terbukti menunjukkan fungsinya. Di sini jelas kelihatan bahwa makna inklusif lebih terkait kepada hubungan antara penganut agama pada dataran sosial, bukan hubungan dalam perspektif teologi agama-agama. Oleh karena itu, sikap yang dituntut dari seorang Muslim adalah merasa mudah dan rileks ketika hidup berdampingan dengan penganut agama lain. Secara teoritis, dapat dikatakan bahwa doktrin-doktrin keagamaan yang tidak menunjukkan fungsi sosialnya secara maksimal, akan rawan terhadap munculnya konflik. Oleh karena itu, doktrin-doktrin keagamaan yang sering terkesan eksklusif. sebenarnya, tidak terlalu signifikan untuk melahirkan konflik jika ia diiringi dengan menampakkan fungsi sosial agama itu sendiri. Eksklusivisme tidak lebih jelek dari otoritarianisme dalam memahami keagamaan. Jika dalam wilayah praktis (kehidupan sehari-hari), masing¬-masing penganut agama dapat bertemu dalam satu wadah yang disebut budaya, atau dalam perspektif filsafat dan agama, masing-masing bertemu dalam ¬substansi, maka yang ditawarkan di dalam perspektif ini adalah sentimen-sentimen masing-masing keagamaan semestinya terwadahi pada fungsi social agama bersangkutan.

2 Tanggapan

  1. Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Wisata kepulau Bali”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan tolong dikomentarin yaaa. Makasiiih.

  2. artikel bagus, mnta izin tuk di pelajari mengisi matkul..
    salam kenal..
    hht://agusnuramin.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: